Gerbang Kantor Bupati Langkat Dirobohkan, Warga Besitang Mengamuk Tuntut Bantuan Banjir Tak Kunjung Cair

Langkat (suarsair.com) – Ratusan warga korban banjir hidrometeorologi 2025 di Kecamatan Besitang dan Brandan Barat meluapkan kemarahan dengan aksi dramatis di Kantor Bupati Langkat, Senin (20/4/2026). Massa yang tergabung dalam “Panggilan Aksi Menjemput Keadilan” merobohkan gerbang kantor bupati setelah tuntutan mereka tak kunjung mendapat kepastian.

Aksi yang awalnya berlangsung di Gedung DPRD Langkat itu memanas saat massa bergerak ke kantor bupati. Ketidakpercayaan terhadap informasi bahwa Bupati Syah Afandin sedang berada di Jakarta membuat situasi semakin tegang.

Massa menerobos barikade pengamanan Satpol PP dan aparat kepolisian hingga akhirnya berhasil menjebol pintu gerbang utama.

Di tengah kericuhan, suasana sempat memuncak ketika seorang pegawai yang disebut-sebut mirip bupati terlihat keluar dari kantor menuju Bappeda. Massa yang sudah tersulut emosi langsung mengejar sambil berteriak, memicu kepanikan di lingkungan kantor pemerintahan tersebut.

Aksi itu dipicu kekecewaan mendalam warga terhadap bantuan stimulan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia yang hingga kini belum mereka terima. Padahal, sebagian korban banjir lainnya disebut sudah mendapatkan bantuan serupa.

“Kami juga korban, tapi sampai sekarang belum menerima apa-apa. Ini tidak adil,” tegas Misnawati, salah satu peserta aksi.

Menurut warga, hampir seribu korban banjir di wilayah mereka masih menunggu kejelasan terkait bantuan jaminan hidup, isi hunian, hingga stimulan ekonomi. Ketimpangan distribusi bantuan itu menjadi pemicu utama kemarahan massa.

Andika, tokoh agama yang turut hadir, menegaskan bahwa aksi itu bukan sekadar unjuk rasa, melainkan bentuk desakan serius kepada pemerintah daerah dan DPRD agar segera bertindak.

“Kami mendesak bupati lebih proaktif berkomunikasi dengan Kemensos dan meminta DPRD menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal. Jangan biarkan rakyat menunggu tanpa kepastian,” ujarnya.

Hingga sore hari, massa masih bertahan di sekitar Kantor Bupati Langkat. Mereka bahkan mengancam akan menginap jika tuntutan tidak segera direspons.

“Kalau belum ada jawaban pasti, kami tidak akan pulang. Kami ingin keadilan, bukan janji,” kata Misnawati.

Sementara itu, Bupati Syah Afandin saat dikonfirmasi menyatakan dirinya tengah berada di Jakarta untuk urusan dinas. Namun pernyataan tersebut belum mampu meredam kemarahan warga yang merasa diabaikan di tengah penderitaan pascabencana. (AS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *