Medan (suarsair.com) – Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dan Boru (PPTSB) bersama Toba Caldera UNESCO Global Geopark (TCUGGp) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai langkah strategis dalam mendukung pengembangan Kawasan Danau Toba berbasis keberlanjutan, Minggu (12/4/2026) di Gedung Kantor Toga Sinaga, Jalan Bunga Terompet No. 139, Medan.
Kerja sama ini mencakup berbagai bidang penting, mulai dari pendidikan, inovasi, pariwisata, penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan generasi muda, hingga pelestarian budaya yang berlandaskan prinsip UNESCO Global Geopark.
Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh semangat kolaboratif, dengan tujuan memperkuat posisi Danau Toba sebagai salah satu geopark unggulan Indonesia sekaligus warisan dunia. Kedua pihak sepakat bahwa sinergi antara organisasi berbasis marga dan lembaga pengelola geopark menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan.
Mewakili TCUGGp hadir General Manager Dr Azizul Kholis, Manager Geology Petrus Parlindungan Purba, Manager Kerjasama Tikwan Raya Siregar, serta Manager Edukasi Ovi Vensus Samosir.
Sementara dari PPTSB turut hadir Ketua Umum Ir Edison Sinaga, Sekretaris Jenderal Drs Eduard Sinaga MM, anggota Dewan Pakar Dr Wilmar Simanjorang dan Dr Osberth Sinaga, serta jajaran pengurus lainnya.
Dalam sambutannya Dr Azizul Kholis menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen untuk mengimplementasikan agenda UNESCO yang selama ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat luas.
“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada dokumen semata, tetapi berlanjut dalam program nyata yang selaras dengan prinsip UNESCO Global Geopark,” ujarnya.
Ketua Umum PPTSB Ir Edison Sinaga menyambut baik kerja sama tersebut dan menyatakan kesiapan organisasinya untuk berperan aktif dalam pengembangan kawasan Danau Toba.
“PPTSB siap menjadi mitra strategis dalam mengembangkan Danau Toba yang kita cintai ini,” tegasnya.
Usai penandatanganan, kedua pihak menggelar diskusi mendalam yang menghasilkan empat program prioritas kerja sama, yakni pengembangan kawasan Tugu Toga Sinaga sebagai museum dan pusat informasi geopark, pelestarian serta perbanyakan tanaman endemik, pembinaan generasi muda marga Sinaga yang peduli geopark, serta partisipasi aktif dalam kegiatan Geofest Geopark.
Sebagai penutup, anggota Dewan Pakar PPTSB sekaligus aktivis lingkungan, Dr Wilmar Simanjorang, menegaskan bahwa tantangan terbesar dari kerja sama ini terletak pada implementasi di lapangan.
“Ukuran keberhasilan bukan pada dokumen, tetapi pada dampak nyata—apakah masyarakat merasakan manfaat, lingkungan terjaga, generasi muda terlibat, dan ekonomi lokal tumbuh,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekjen PPTSB Drs Eduard Sinaga menyebut kekuatan jaringan organisasi yang tersebar di 148 cabang dan 17 wilayah sebagai modal sosial besar yang harus dioptimalkan untuk mendorong perubahan hingga ke tingkat akar rumput.
Penandatanganan MoU ini diharapkan menjadi titik awal kolaborasi yang konkret, terukur dan berkelanjutan, demi kemajuan masyarakat di kawasan Danau Toba serta pelestarian geopark sebagai warisan dunia. (*)












