Rotasi Pejabat di Tengah Penanganan Banjir, DPRD Medan Soroti Kinerja Kadis Baru SDABMBK

Medan (suarsair.com) – Perombakan jajaran pimpinan di Dinas Sumber Daya Air Bina Marga Bina Konstruksi (SDABMBK) Kota Medan terjadi di tengah fokus penanganan banjir yang masih berlangsung. Wali Kota Medan Rico Waas menunjuk Khairul Azmi sebagai Kepala Dinas (Kadis) SDABMBK, menggantikan posisi sebelumnya yang diisi pelaksana tugas.

Tak hanya itu, posisi Sekretaris Dinas (Sekdis) juga mengalami pergantian. Willy Irawan yang sebelumnya menjabat Sekdis SDABMBK kini dipindahkan menjadi Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan posisinya digantikan oleh Gema Halelu Isa.

Sebelumnya, jabatan Kadis SDABMBK pernah diisi Topan Obaja Ginting sebelum ia dipromosikan menjadi Kadis PUPR Provinsi Sumatera Utara. Kekosongan jabatan tersebut sempat diisi oleh Gibson Panjaitan sebagai pelaksana tugas, sebelum kemudian ditarik ke tingkat provinsi.

Pergantian dua posisi strategis itu mendapat sorotan dari DPRD Kota Medan, khususnya Komisi 4 yang selama ini intens mengawal program penanganan banjir.

Anggota Komisi IV Renville Napitupulu menilai langkah tersebut berpotensi mengganggu kesinambungan kerja yang telah dibangun. Ia menyoroti bahwa tim sebelumnya sudah memahami secara mendalam persoalan banjir dan tengah bersiap menjalankan program yang telah dirancang.

“Komposisi yang sudah berjalan baik justru diubah, padahal saat ini kita sedang fokus pada penanganan banjir,” ujarnya.

Meski demikian, Ketua Komisi IV DPRD Medan Paul Mei Anton Simanjuntak memilih bersikap lebih terbuka. Ia menegaskan bahwa DPRD akan memberikan kesempatan kepada pejabat baru untuk menunjukkan kinerjanya.

“Kita tidak bisa langsung menilai. Kita lihat saja dalam tiga bulan ke depan bagaimana kinerjanya. Dalam waktu dekat, kita akan memanggil SDABMBK untuk RDP membahas kembali penanganan banjir,” katanya, Selasa (21/4/2026).

Paul mengakui sempat berharap posisi tersebut diisi oleh pejabat internal yang dinilai sudah memahami persoalan teknis di lapangan. Namun, ia tetap menghormati keputusan wali kota yang diyakini telah mempertimbangkan aspek kompetensi.

Penanganan banjir di Kota Medan bukan perkara sederhana. Sejumlah proyek strategis masih harus diselesaikan, mulai dari normalisasi sungai hingga pembangunan kolam retensi.

Salah satu pekerjaan yang belum rampung adalah normalisasi Sungai Bederah. Selain itu, berbagai infrastruktur pendukung pengendalian banjir masih membutuhkan percepatan.

“Ini pekerjaan besar. Harus ditangani oleh orang yang benar-benar ahli. Kita akan uji kemampuan mereka, dan jika tidak sesuai harapan, tentu akan kita kritisi dan rekomendasikan evaluasi,” tegas Paul.

Ia berharap pejabat baru mampu beradaptasi cepat, membangun kolaborasi dengan jajaran teknis, serta menjaga kesinambungan program yang sudah berjalan, agar target penuntasan banjir dapat tercapai, terutama di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu. (HP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *