Dari Akuntabilitas ke Pelayanan, Gabriel Choandy Moderatori Dialog Empat Tokoh Gereja di PKTM GAMKI Sumut

Medan (suarsair.com) – Pendidikan Kader Tingkat Madya (PKTM) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sumut 2026 memasuki hari kedua, Sabtu (29/8/2026). Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah Sesi IV Kerohanian dan Kepemimpinan yang mempertemukan empat tokoh gereja dan akademisi Kristen.

Sesi yang mengangkat tema “Spiritualitas, Servant Leadership dan Regenerasi Kepemimpinan Kristen” tersebut dimoderatori Gabriel Henry Willy Choandy AMd SE MSi AAP. Kegiatan berlangsung pukul 11.00–13.00 WIB di Lt. 5 Gedung Aula BPSDM Provinsi Sumatera Utara, Jalan Ngalengko, Medan.

Empat narasumber yang hadir dalam dialog tersebut yakni Bishop Antoni Manurung MTh, Bishop Gereja Methodist Indonesia Wilayah 1 Medan Pdt Dr Adolfina E Koamesakh MTh MHum, Ketua STT Paulus Medan Pdt Boy Levi Panjaitan STh MM, Pendeta Gereja HKI Medan Kota serta Pdt Ir Allen Pangaribuan MSP MTh, Ketua STT Ekumene Medan.

Forum ini menjadi ruang dialog bagi peserta PKTM untuk memperdalam pemahaman mengenai spiritualitas, karakter pemimpin Kristen, kepemimpinan yang melayani serta pentingnya regenerasi kepemimpinan.
Pesan Kepemimpinan dari Pembukaan PKTM.

PKTM GAMKI Sumatera Utara Tahun 2026 sebelumnya dibuka, Jumat (28/8/2026) atas nama Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution SE MM yang diwakili Pj Sekretaris Daerah Provinsi Sumut H Timur Tumanggor SSos MAP.

Dalam sambutan Gubernur yang disampaikan Pj Sekdaprovsu, Pemprov Sumut mengapresiasi pelaksanaan PKTM GAMKI sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kepemimpinan generasi muda.

Pendidikan kader, menurut pesan tersebut, tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan integritas, penajaman pola pikir serta penumbuhan tanggung jawab dalam mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Pesan tersebut sejalan dengan tema PKTM GAMKI Sumut 2026, “Pulihkan Bangsa Kami” yang diambil dari Mazmur 80, dengan subtema “Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transformatif dan Inovatif”.

Gubernur juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai jembatan persatuan, penggerak kolaborasi dan pelopor solusi di tengah berbagai tantangan.

Kepemimpinan, kata Gubernur dalam pesannya, tidak hanya berbicara mengenai kemampuan berada di depan, tetapi juga kemauan untuk melayani, kemampuan mendengarkan serta keberanian mengambil tanggung jawab ketika menghadapi persoalan bersama.
Nilai tersebut kemudian diperdalam melalui Sesi IV Kerohanian dan Kepemimpinan.

Penunjukan Gabriel Henry Willy Choandy sebagai moderator memiliki relevansi dengan tema yang dibahas. Gabriel merupakan profesional sekaligus PNS aktif pada Inspektorat Provinsi Sumatera Utara dengan latar belakang akuntansi pemerintahan dan audit sektor publik.

Ia memiliki pendidikan Magister Ilmu Akuntansi Pemerintahan dan Audit Sektor Publik yang ditempuh melalui beasiswa tugas belajar Program STAR Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang didanai Asian Development Bank (ADB).

Sebelumnya, Gabriel menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi Akuntansi dan Ahli Madya Akuntansi. Pengalaman tersebut membuatnya dekat dengan isu akuntabilitas, tata kelola pemerintahan, pelaporan keuangan daerah dan pengawasan sektor publik.

Dalam konteks kepemimpinan, akuntabilitas dan pelayanan memiliki titik temu yang kuat. Akuntabilitas menuntut seseorang mampu mempertanggungjawabkan amanah, sementara kepemimpinan melayani mengajarkan agar amanah tersebut digunakan untuk kepentingan orang lain.

Di luar aktivitas kedinasannya, Gabriel juga aktif dalam pelayanan gerejawi. Ia melayani sebagai Diaken GBI Rumah Persembahan dan GBI HDTI Jalan Imam Bonjol No 17 Medan yang merupakan bagian dari Keluarga Besar GBI Medan Plaza.

Pelayanan tersebut dijalankan atas kepercayaan Gembala Pembina Pdt R Bambang Jonan dan Gembala Sidang Pdt Daniel Edy Prajitno STh serta berada dalam mentorship Pdm Lukman Siregar.

Di organisasi kepemudaan, Gabriel dipercaya sebagai Sekretaris Bidang Kerohanian DPD GAMKI Sumut masa bakti 2025–2028. Ia juga tercatat sebagai Wakil Bendahara Bidang Perkebunan DPD KNPI Sumut Masa Bakti 2025–2028 dan Andalan Bidang Pengelolaan Aset dan Usaha Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara Masa Bakti 2025–2030.

Keterlibatan tersebut mempertemukan tiga ruang pengabdian, yakni profesionalisme, organisasi dan pelayanan.

Dalam proses kaderisasi GAMKI, integritas publik menjadi salah satu aspek penting. Peserta dibekali pemahaman mengenai pemerintahan, hukum, pembangunan daerah, pemberantasan korupsi, tata kelola pemerintahan serta tanggung jawab pemuda dalam pembangunan.

Pada saat yang sama, nilai servant leadership menempatkan kepemimpinan bukan sebagai sarana mengejar kekuasaan atau kehormatan, melainkan sebagai panggilan untuk melayani, membimbing, menggerakkan dan memberdayakan orang lain.
Nilai inilah yang menjadi benang merah Sesi IV.

“Kepemimpinan bukan sekadar tentang berada di depan. Kepemimpinan adalah kesediaan untuk melayani, memikul tanggung jawab, menjaga integritas, memberi teladan, dan mempersiapkan generasi berikutnya,” demikian pesan yang relevan dengan semangat dialog tersebut.

PKTM DPD GAMKI Sumut 2026 dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan kader, tetapi juga membentuk sikap, memperkuat spiritualitas, mengembangkan kepemimpinan serta menumbuhkan komitmen pelayanan.

Kader diharapkan memiliki kematangan iman, integritas moral, wawasan kebangsaan, kepekaan sosial dan kemampuan membangun relasi lintas gereja, lintas iman, lintas organisasi serta lintas sektor.

Dalam konteks Sumut yang majemuk, kader GAMKI diharapkan mampu menjadi perekat sosial, pelopor toleransi dan penggerak persatuan. Karena itu, Sesi IV tidak sekadar membahas bagaimana menjadi pemimpin di dalam organisasi, tetapi bagaimana nilai kepemimpinan tersebut diterapkan dalam gereja, masyarakat dan ruang publik.

Pada akhirnya, semangat kaderisasi tersebut bermuara pada satu gagasan pemimpin tidak hanya dituntut mampu memimpin, tetapi juga bersedia melayani.

Dari pemerintahan dibutuhkan akuntabilitas, dari organisasi dibutuhkan kolaborasi, sementara dari pelayanan dibutuhkan ketulusan. Ketiganya menjadi modal penting untuk melahirkan generasi muda Kristen yang mampu memimpin dengan integritas, bekerja dengan kompetensi dan melayani bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *