Jakarta (suarsair.com)
Pengalaman disertai oleh Yesus dalam hidup keseharian merupakan jalan indah menuju kesempurnaan Ilahi. Disertai oleh Yesus artinya mengalami kasih dan kebaikan-NYA dalam menjalankan tugas sebagai manusia yang berkehendak selaras dengan kehendak Tuhan.
Penyertaan-NYA tidak pernah lepas dari genggaman tangan-NYA karena tanpa penyertaan Tuhan Yesus, manusia akan dikuasai oleh keinginan-NYA yang mengarah pada kebinasaan. Oleh karenanya penyertaan Tuhan Yesus merupakan keharusan dan mutlak dimiliki oleh setiap orang percaya dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan sehari hari.
Orang yang disertai Tuhan Yesus memiliki semangat hidup yang jauh berbeda dengan orang yang hidup tanpa penyertaan Tuhan Yesus. Mengapa demikian?
Dalam penyertaan Tuhan Yesus, setiap orang memiliki daya Ilahi yang mampu menghalau setiap persoalan yang muncul di depan mata tanpa rasa gelisah dan takut yang seringkali menguasai hidup setiap orang.
Sebaliknya, orang yang hidup tanpa penyertaan Tuhan Yesus akan senantiasa hidup dikuasai oleh ketakutan dan kegelisahan yang tentunya membuaat orang tersebut sulit untuk mengatasi setiap persoalan yang hadir secara nyata dalam hidup kesehariannya.
Maka dari itu, kesadaran akan penyertaan Tuhan Yesus yang begitu besar dalam hidup setiap orang beriman, akan memampukan orang tersebut untuk memiliki rasa syukur yang amat besar nilainya. Penyertaan Tuhan membuat setiap orang percaya akan hidup dalam kebahagiaan sejati yang tidak akan pernah diambil dari padanya.
Rasa Syukur inilah yang “mempersenjatai” orang beriman untuk berbuat yang terbaik untuk dirinya dan sesama. Berbuat yang terbaik maksudnya adalah tetap mengucap syukur walaupun badai kehidupan menerpa langkah hidupnya yang kadang membuatnya goyah.
“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28: 20). Penyertaan Tuhan yang totalitas hingga akhir zaman merupakan bukti keseriusan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup manusia ciptaan-NYA yang merindukan manusia untuk kembali kepada-NYA.
Daya Ilahi yang super dahsyat ini tidak dapat ditandingi oleh kekuatan manapun yang ada di dunia ini. Daya Ilahi yaitu kesanggupan manusia untuk hidup sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan yang sejak semula menginginkan kebaikan manusia meskipun manusia harus menghadapi berbagai macam masalah hidup yang berada di luar jangkauannya.
Berkat daya Ilahi ini, manusia dipanggil pada kekudusan hidup yang berakar pada penyertaan TuhanYesus. Tanpa kekudusan manusia tidak dapat hidup selama lamanya bersama TuhanYesus di surga.
Apa itu hidup kudus? Hidup kudus artinya hidup yang searah dengan firman Tuhan dan hidup dalam pengalaman indah bersama Tuhan secara terus menerus meskipun badai kehidupan menghantam keberadaan kita. Hidup kudus itu juga adalah sebuah rahmat yang dianugerahkan untuk kebaikan hidup manusia.
Maka dari itu tidak setiap orang menerima rahmat ini karena Tuhan Yesus melihat hati setiap orang. Panggilan hidup kudus merupakan panggilan hidup yang sejak semula dikehendaki oleh Tuhan Yesus agar manusia memiliki kehidupan kekal.
Kekudusan itu merupakan sarana emas untuk berjumpa dengan Tuhan selama-lamanya tanpa ada rasa sedih lagi. Tanpa kekudusan yang paripurna, manusia tidak dapat merasakan kehadiran Tuhan yang amat peduli pada hidup manusia dalam kehidupan nyata di dunia.
Kehadiran Tuhan dalam hidup manusia merupakan hal yang amat penting dalam “peziarahan” di muka bumi ini sebab kehadiran Tuhan menopang hidup manusia untuk berada pada jalurnya. Oleh karenanya setiap manusia diharapkan untuk memulai hidup kudusnya melalui penyangkalan diri dan melepaskan diri dari seluruh kelekatan dunia yan menghalangi hadirat Allah yang sunngguh nyata.
“Apa gunanya seseorang memiliki seluruh dunia, tetapi Ia kehilangan nyawanya? (Lukas 9 : 25). Kecenderungan manusia adalah memiliki semua hal yang menyenangkan dirinya sendiri tanpa peduli akan kesulitan orang lain. Semua hal yang diinginka manusia adalah bersifat sementara dan melegakan sesaat karena tidak menyentuh kekosongan jiwanya yang hanya bisa dipuaskan oleh kehadiran Tuhan dalam dirinya.
Tanpa kehadiran Tuhan dalam hati manusia, maka setiap orang akan masuk dalam jurang kebinasaan kekal. Maka dari itu, kesetiaan akan kehendak Tuhan yang hadir lewat profesi kita masing-masing haruslah dikedepankan dan diutamakan agar fokus hidup kita bukannya pada terselesaikan tugas harian kita yang bersifat rutin, namun fokusnya adalah kemuliaan nama Tuhan di muka bumi ini yang harus senantiasa diagungkan.
Misalkan seseorang berprofesi sebagai tukang tambal ban di pinggir jalan yang setiap harinya menambal ban bocor dan bahkan mengganti ban yang lama dengan ban yang baru. Tugas seperti ini adalah rutinitas tukang tambal ban dan seringkali melakukan tugas penambalan ban pada malam hari.
Bila hal itu dilakukam dengan sepenuh hati untuk membantu setiap orang yang kendaraannya mengalami kebocoran ban, maka tukang tambal ban sudah melaksanakan kehendak Tuhan secara maksimal. Keikhlasan dan ketulusan yang dimiliki tukang tambal ban melaksanakan tugasnya merupakan bukti nyata perwujudan kasih dan kehendak Tuhan yang sungguh hadir dalam diri tukang tambal ban dan difungsikan keahliannya untuk melayani orang lain yang membutuhkan.
Kesimpulannya adalah tukang tambal ban sudah melaksanakan firman Tuhan yang tertulis dalam kitab suci yang merupakan kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup manusia. Maka dari itu, setiap manusia diharapkan untuk taat dan setia pada rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup manusia yang selalu hadir kepada setiap orang yang dikehendakinya.
Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana kita menyadari penyertaan Tuhan dalam hidup? Jawabannya adalah manusia seringkali sulit menyadari peenyertaan Tuhan dalam hidupnya karena ditarik oleh keterikatan dan kelekatan pada hal-hal duniawi yang bersifat fana sehingga penyertaan Tuhan yang senantiasa berdaulat di dalam hatinya terdistorsi oleh kebutuhan-kebutuhan semu yang berusaha memisahkan manusia dari Kasih Tuhan.
Distorsi ini tentunya amat mengganggu rencana keselamatan yang telah diidam-idamkan oleh Tuhan karena Tuhan senantiasa menyertai manusia dengan kasih dan kebaikannya, namun manusia seringkali lepas kendali dan tenggelam dalam lautan kebodohan dosa yang membuatnya tak bisa bernapas lagi.
Akibatnya rencana keselamatan Tuhan gagal terlaksana di muka bumi ini karena manusia lebih menyukai untuk masuk dalam kebinasaan kekal yang tidak mungkin terseberangi oleh Tuhan Yesus.
Ini akibat yang amat serius dan membutuhkan kepekaan tingkat tinggi untuk beralih dari kebinasaan kekal menuju pada hidup abadi yang telah tersedia sejak dunia dijadikan. Kepekaan ini hanya bisa kita usahakan melalui rutinitas membaca kitab suci, berdoa, aktif dalam kegiataan gereja dan bakti sosial di tengah-tengah masyarakat.
Kepekaan akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan nyata akan memampukan seseorang untuk menghadapi setiap persoalan dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangaan matang karena orang tersebut sudah dikuasai oleh sang pemberi hidup.
Pikiran dan hati yang dikuasai oleh sang pemberi hidup akan senantiasa dipenuhi damai sejahtera dan suka cita. Damai sejahtera dan suka cita inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan segala persoalaan hidup yang datang silih berganti tanpa henti.
Persoalan hidup hanyalah sebuah melodi indah yang mengiringi hidup kita yang terkadang mengalami jalan buntu sebab damai sejahtera dan suka cita menjadi pendamping hidup selama kita berziarah di muka bumi ini. Permasalahan hidup terasa ringan sekali karena sumber kebahagiaan sejati menjadi semangat kita untuk melaksanakan kehendak Tuhan di dunia.
Damai sejahtera kutiggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janaganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14 : 27). Damai sejahtera inilah yang menjadi sumber kekuatan dan penghiburan orang beriman dari semua tantangan hidup yang seringkali menghantui orang beriman dalam kerasnya hidup yang fana ini.
Damai sejahtera ini haruslah kita mohonkan pada Tuhan setiap hari agar merajai hati dan budi kita untuk melahap setiap kerikil-kerikil tajam kehidupan dunia. Manusia yang tidak memiliki damai sejahtera dan suka cita, akan senantiasa tenggelam dalam arus gemerlapnya dunia yang penuh rekayasa dan intrik jahat.
Rekayasa dan intrik jahat sudah merupakan bagian dari kehidupan manusia dewasa ini yang melilit hidup manusia agar tertekan dan tak berdaya. Ketidakberdayaan merupakan kesempatan emas untuk merasakan hangatnya kasih dan berkat Tuhan yang amat menenangkan jiwa.
Ketidakberdayaan adalah bukti konkrit belas kasih Tuhan kepada umat yang dikasihi-Nya karena penyertaan Tuhan adalah obat mujarab untuk menyatukan diri dengan Tuhan Yesus yang tersalib dan dibangkitka pada hari yang ketiga. Penyertaan Tuhan dalam hidup manusia melalui suka cita dan damai sejahtera adalah hadiah jackpot yang harus senantiasa dipelihara agar tidak terhalangi oleh kesombongan dan kejahatan hati manusia.
Suka cita dan damai sejahtera akan menjadikan hidup manusia semakin berwarna dan penuh daya untuk melaksanakan kehendak dan rencana Tuhan. Rencana dan kehendak Tuhan haruslah jadi Panglima dalam hati kita karena kehendak dan rencana-Nya merupakan penuntun hidup manusia untuk bersatu dengan Allah dalam keabadian.
Rencana dan kehendak-Nya adalah lebih utama dibandingkan emas dan prmata karena kehendak dan rencana Tuhan adalah pelita yang tidak akan pernah padam jika manusia mau dituntun oleh-Nya. Namun rencana dan kehedak Tuhan kadangkala menyakitkan dan mengecewakan sebab lika-liku jalan yang ditunjukan Tuhan sungguh di luar ekspetasi dan kehendak manusia.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9).
Nabi Yesaya sangat menyadari bahwa kehebatan jalan Tuhan itu sangatlah tak tertandingi oleh siapapun dan rancangan-Nya adalah rancangan kebaikan bagi hidup manusia untuk sampai pada kehidupan kekal sebagai pelabuhan terakhir.
Mengapa jalan Tuhan disebut hebat? Jalan Tuhan disebut hebat karena jalan Tuhan itu memuat grand desain dari kehendak Tuhan bagi kebahagiaan hidup manusia yang di dalamnya ada sebuah maksud dan intensi yang maha indah yang dipersiapkan Tuhan bagi setiap orang beriman yang dikuasai oleh Roh Kudus.
Bahkan orang yang tidak beriman pun memiliki sebuah misi untuk diselesaikan di muka bumi ini yang sering kali diabaikan pelaksanaannya. Maka dari itu hal yang sering terjadi bagi orang tak beriman adalah terjerumus dalam jebakan si jahat yang berusaha untuk merusak rencana Tuhan dalam hidupnnya.
Ruskanya rencana Tuhan ini adalah akibat dari minimnya kepekaan dan empati dari manusia untuk menyatukan diri dengan kasih dan kebaikan Tuhan yang tidak pernah luntur dimakan zaman. ”Barangsiapa tidak mengasihi, Ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8). Rasul Yohanes secara sadar menasehati bahwa setiap orang yang tidak mengasihi, pastinya tidak mengenal Allah sebab Allah adalah Kasih.
Kasih itu sumbernya hanya satu yaitu Allah sendiri yang tidak dapat dibantah lagi otoritas dan kekuasaannya di surga dan di bumi. Oleh karena itu, setiap orang yang tidak mengasihi tentunya akan merasa sepi dan kosong karena kasih Allah tidak berdiam dalam dirinya.
Akibat dari kekosongan tersebut adalah penyertaan Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidup orang beriman tidak bisa dirasakan dan disadari hadirat-Nya. Jika seseorang tidak mengenal Allah secara benar, maka Ia tidak akan mungkin mengenal dirinya secara benar juga. Lantas, jika pengenalan akan diri gagal, maka oarang terseebut akan sulit mengasihi orang yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya dengan benar.
Apalagi orang tersebut harus mengasihi musuh atau orang yang berseberangan dengan dia secara visi dan aspirasi, orang tersebut tentunya akan kesulitan dan kewalahan melaksanakan pesan Kasih Tuhan yang berakibat pada tumpulnya hubungan dengan Allah, sesama dan diri sendiri.
Konsekuensi akhir dari penyertaan Tuhan adalah setiap orang harus berhadapan dengan beraneka macam situasi yang menghadang dan menggilas orang beriman untuk keluar dari jalur yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Si jahat akan berusaha sekuat tenaga untuk merobek pertahanan kita dengan meletakan pikiran-pikiran negatif dalam hati dan jiwa kita. Hal ini bisa berakibat fatal bagi terlaksananya rencana dan kehendak Tuhan dalam hidup manusia.
“Sadarlah dan berjaga-jaga! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya,” (1 Petrus 5:8). Rasul Petrus amat sadar bahwa penyertaan Tuhan yang telah kita terima saat dibabtis tidak disukai oleh si jahat yang mengiginkan kehancuran hidup orang beriman untuk terjeblos dalam perangkapnya.
Iblis berusaha keras untuk menelan setiap orang yang mengabaikan firman Tuhan yang terpatri dalam diri manusia. Bila Firman Tuhan terabaikan, lalu setiap orang beriman pastinya akan tersesat dan jauh dari tujuan akhir hidup manusia yakni kehidupan kekal.
Pengabaian firman Tuhan sangat besar dampaknya bagi hidup manusia karena manusia pastinya terpisah dari kasih Tuhan yang amat besar. Keterpisahan manusia dari kasih Tuhan adalah akibat pengabaian firman Tuhan yang setiap hari berusaha masuk dalam sanubari manusia.
Oleh karenanya, orang yang tidak dapat ditelan oleh si iblis adalah orang yang senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam serta melaksanakannya setiap saat.
Pribadi yang dikuasai firman Tuhan akan bertumbuh dengan penuh daya ilahi dan rahmat kebaikan yang tidak akan pernah dapat disentuh oleh iblis karena penyertaan Tuhan sungguh nyata dan dirasakan hadirat-Nya oleh orang beriman yang senantiasa memandang wajah Tuhan.
Emanuel atau Tuhan beserta kita akan selalu menjadi pengingat orang beriman untuk hidup sesuai dengan kasih Tuhan yang tidak akan pernah berhenti menyertai kita dalam segala kondisi hidup kita.
“Hanya, kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan oleh hamba-Ku Musa, janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung kemanapun engkau pergi,” ( Yosua 1:7).
Sebagaimana tertulis dalam kitab Yosua, setiap orang dikehendaki untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya dalam menghadapi setiap rintangan dan hambatan yang hadir silih berganti karena mata jasmani manusia seringkali tertipu oleh iblis dan manusia seringkali bersungut-sungut akan kesulitan hidupnya dan beralih ke Allah lain yang bisa lebih instan mengabulkan kehendak manusia.
Jadinya kehendak manusia acapkali menguasai hidup manusia sehingga mengabaikan kehendak Tuhan yang hadir dalam firman-Nya. Kehendak manusia senantiasa berhadapan dengan kehendak Tuhan, lantas manakah yang harus didahukukan?
Jawaban tersebut tentunya adalah kehendak Tuhan yang harus menjadi Panglima dalam hidup orang beriman. Berlawanan dengan hal tersebut, manusia seringkali mengutamakan kehendaknya dan mengesampingkan kehendak Tuhan sehingga akses untuk menerima kebaikan Tuhan menjadi terhenti.
Bila kebaikan Tuhan berhenti untuk menyuplai kasih ke kehidupan manusia, maka hal yang pastinya terjadi adalah kehancuran hidup manusia yang berujung pada kebinasaan kekal. Manusia gagal untuk hidup bersama dengan Allah selamanya karena hadirat Allah tidak berdiam dalam dirinya.
Contoh nyata dari kegagalan manusia untuk bersatu dengan Allah adalah peperangan antar negara, perselisihan rumah tangga yang berujung pada perceraian, pencurian, perzinahan, percabulan, pesta pora, dendam, pembunuhan dandan lain-lain. Maka dari itu, manusia sangat perlu untuk menanamkan firman Tuhan dalam sanubarinya agar kehendak Tuhan terlaksana secara paripurna dalam hidupnya. Sehingga keselamatan kekal yang telah dijanjikan Tuhan terwujud dalam hidup manusia. (*)