Medan (suarsair.com)
Direktur PT SSE, Halomoan, mengungkap dugaan masuknya komponen shoe brake tidak asli dalam proses pengadaan di PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Ia juga menyoroti adanya dugaan monopoli vendor dalam sistem pengadaan di perusahaan BUMN tersebut.
Menurut Halomoan dalam keterangan tertulisnya yang diterima wartawan, Kamis (26/3/2026), proses yang disebut sebagai tender terkesan tidak kompetitif karena vendor yang diundang diduga berasal dari kelompok yang sama di lingkungan Inalum.
Ia menyebut pihaknya telah menyampaikan bukti resmi dari Meidensha dan Satuma selaku OEM Meidensha asal Jepang. Dokumen tersebut, lanjutnya, telah dilengkapi dengan surat terjemahan tersumpah ke dalam bahasa Indonesia. Namun, laporan itu disebut tidak mendapat tanggapan maupun tindak lanjut dari pihak perusahaan.
Halomoan menduga adanya pihak tertentu yang memiliki pengaruh kuat sehingga persoalan tersebut tidak ditangani secara terbuka dan terkesan tidak menjadi perhatian internal.
Selain itu, PT SSE mengaku telah melayangkan sejumlah surat kepada berbagai pejabat di lingkungan manajemen Inalum, antara lain kepada Senior Executive President Pengadaan Barang Jevi Amri, GM Bambang Heru Prayoga, GM Logistik, Susyam Widodo selaku GM Maintenance, Direktur Utama Mahendra, Melati, hingga jajaran manajemen, direksi, dan komisaris perusahaan.
Namun demikian, menurutnya, berbagai upaya tersebut belum mendapatkan respons yang diharapkan.
“Kami Sudah Ingatkan, Tapi Diabaikan. Kami sudah menyampaikan dan sejak sekitar dua tahun lalu mengirimkan surat resmi dari prinsipal/Satuma OEM Meidensha Jepang yang menyatakan barang tersebut tidak asli dan tidak sesuai gambar. Bahkan sudah dilengkapi dengan surat terjemahan tersumpah ke bahasa Indonesia,” ujar Halomoan.
Ia menjelaskan, dokumen tersebut juga memuat kronologi terkait status Meidensha yang telah diakuisisi oleh KITO sekitar 15 tahun lalu, serta hubungan Satuma sebagai OEM Meidensha sejak lebih dari 50 tahun.
Menurutnya, terdapat perbedaan antara dokumen inspeksi internal dengan kondisi fisik barang di lapangan. Ia menyebut barang tidak mencantumkan merek Meidensha, berbeda dengan kartu inspeksi yang diterbitkan oleh pejabat berwenang di Inalum.
“Yang menjadi pertanyaan, kenapa barang itu tetap dinyatakan status OK dan tidak ditarik?” katanya.
Halomoan juga mengungkap adanya informasi dari sumber yang disebut dapat dipercaya bahwa barang-barang yang dinyatakan tidak asli tersebut telah dikosongkan dari gudang, diduga untuk mengantisipasi pemeriksaan fisik apabila terjadi sengketa.
Ia menambahkan, pihaknya turut menyampaikan persoalan ini ke sejumlah pihak, termasuk Presiden Prabowo Subianto, Kejaksaan Agung, dan Sekretariat Kabinet.
Halomoan menyoroti kejanggalan dalam proses verifikasi barang. Ia menyebut secara fisik barang tidak memiliki logo atau identitas merek dan tidak sesuai dengan spesifikasi OEM, namun tetap dinyatakan lolos dalam dokumen internal.
“Kalau secara fisik saja sudah berbeda, bagaimana bisa lolos inspeksi?” ujarnya. Ia menilai kondisi ini menunjukkan adanya masalah serius dalam sistem pengawasan internal.
Indikasi Pengkondisian Vendor
Lebih lanjut, ia mengungkap dugaan ketidakadilan dalam sistem pengadaan. Menurutnya, vendor tertentu tetap mendapatkan pesanan meskipun terdapat persoalan kualitas, sementara keberatan dari pihaknya tidak diakomodasi.
“Kami melihat ada kecenderungan vendor tertentu terus dipertahankan, meskipun ada persoalan kualitas,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menciptakan praktik pengadaan yang tidak sehat.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor industri aluminium, Halomoan mengingatkan bahwa penggunaan komponen yang tidak sesuai standar memiliki risiko terhadap keselamatan operasional serta berpotensi menimbulkan kerugian negara.
“Ini bukan hanya soal administrasi. Ini menyangkut keselamatan operasional dan potensi kerugian negara,” tegasnya.
Ia mendorong agar dilakukan audit menyeluruh terhadap proses pengadaan di PT Indonesia Asahan Aluminium.
Pihak Inalum Belum Memberikan Tanggapan
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) belum memberikan tanggapan resmi atas sejumlah tudingan yang disampaikan oleh Direktur PT SSE tersebut.
Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pihak manajemen perusahaan, namun belum diperoleh jawaban. (*)












