Jakarta (suarsair.com)
Kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah berhenti menguasai hidup manusia sejak awal dunia. Kasih Tuhan senantiasa melekat dalam diri manusia karena manusia memiliki nilai yang paling berharga dalam pandangan Tuhan. Tidak ada yang lebih bernilai dan berarti selain manusia bagi Tuhan karena kasih Tuhan selalu ada dalam sanubari manusia yang paling dalam.
Sanubari terdalam manusia senantiasa menyuarakan kebaikan Tuhan yang Maha Kasih karena kasih Tuhan tidak akan pernah bisa dibendung oleh kekuatan apapun di dunia ini untuk senantiasa hadir mengisi kekosogan hidup manusia.
Akan tetapi manusia acapkali tidak pernah mau medengar suara lembut Tuhan yang sangat mengasihinya karena dihalangi oleh kesombongan dan keangkuhan yang seringkali menjebloskan manusia pada jurang maut. Terinterupsinya kasih Tuhan oleh keinginan manusia yang cogkak merupakan hal yang alamiah karena manusia memiliki kecenderungan untuk keluar jalur yang telah ditetapkan oleh Tuhan sejak dosa adam merambah jiwa manusia.
Hal yang alamiah (dosa adam) ini akan selalu hadir dalam diri manusia untuk menggeser kasih Tuhan agar tidak disadari oleh setiap insan yang pada hakikatya bersatu dengan Tuhan. Maka dari itu kesadaran penuh akan kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup manusia janganlah dibiarkan tumpul dan terhambat oleh ketamakan karena hanya kasih Tuhan saja yang akan menghantar manusia pada kebahagiaan dan kedamaian sejati.
Kisah tentang orang samaria yang baik hati dalam injil Lukas menjadi sebuah perenungan mendalam bagi setiap umat manusia. Dalam injil Lukas 10 : 25-37 digambarkan tentang situasi sulit seorang Yahudi yang dirampok dan dianiaya oleh gerombolan pembegal yang sangat ganas dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yericho.
Semua miliknya telah dirampok oleh para pembegal yag tidak kenal belas kasih sedikitpun. Bahkan keadaan tubuhnya penuh dengan luka yang sangat parah sehingga ia tergeletak di tengah jalan tanpa bantuan orang lain. Orang Yahudi tersebut sungguh tidak berdaya sama sekali karena dirinya betul-betul terluka sangat serius sehingga tidak mugkin untuk berjalan mencari pertolongan.
Pada saat yang sama muncullah seorang imam yang sedang lewat di jalan tersebut, namun sang imam tidak mempedulikan keadaan orang tersebut dan meneruskan perjalanannya. Berikutnya datanglah juga seorang Lewi ke tempat tersebut dan saat melihat keadaan orang Yahudi itu dia juga memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tanpa muncul rasa iba sedikitpun.
Hingga pada akhirnya muncullah seorang Samaria yang sedang menyusuri daerah itu dan langsung berpapasan dengan orang Yahudi yang tergeletak setengah mati di tengah jalan dengan keadaan yang amat mengenaskan. Dia menghampiri orang Yahudi tersebut dan tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. (Lukas 10:33-35).
Orang Samaria memutuskan untuk mendatangi dengan penuh belas kasih tempat kejadian perkara di mana orang Yahudi tersebut tergeletak tak berdaya sama sekali. Ia datang dengan niat tulus dan penuh dedikasi pada kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.
Tidak ada pamrih sedikitpun dalam diri orang samaria, karena dorongan kasih Tuhan sendiri yang menuntunnya pada orang yang Yahudi yang sungguh memilukan hati dengan keadaan fisiknya yang penuh darah. Pikiran dan hatinya hanya menginginkan keselamatan orang Yahudi segera terjadi karena Tuhan senantiasa menghendaki kesembuhan dan pemulihan berlangsung segera.
Kehendak Tuhan yang menguasai hati orang samaria yang murah hati tersebut menyalakan api cinta kasih yang memang milik Tuhan sendiri. Tuhanlah yang menyalakan api cinta kasih tersebut, karena orang samaria ini memang telah dialiri kasih sejati yang bersumber dari Tuhan sendiri.
Ia segera mengobati luka luka orang Yahudi tersebut dan meletakkannya di atas pelana keledai yang telah ditungganginya. Lantas orang Samaria segera menuntun keledainya dengan orang Yahudi terluka yang ada di atas pelana keledainya menuju tempat penginapan terdekat.
Ia telah memutuskan untuk merawat orang Yahudi tersebut di tempat penginapan agar luka lukanya bisa segera sembuh. Orang Samaria yang tidak disebutkan namanya dalam injil ini merawat orang Yahudi yang tidak dikenalnya sama sekali.
Ini merupakan tindakan yang sangat mulia bagi seorang manusia yang memang secara adat istiadar tidak memiliki hubungan yang sangat baik. Orang Samaria dan orang Yahudi tidak pernah memiliki hubungan yang baik karena orang Yahudi menganggap bahwa orang Samaria telah menjadi kafir dengan menikahi orang bukan Yahudi.
Orang Yahudi beranggapan bahwa orang Samaria sudah bukan lagi bagian orang Israel yang memiliki keselamatan dari Allah Yahwe. Dalam kepercayaan agama Yahudi setiap orang yang bukan Yahudi dianggap najis dan kafir sehingga tidak perlu didekati. Pada zaman Yesus banyak orang bukan Yahudi bermukim di Samaria yaitu di sebelah utara Danau Galilea. Mereka adalah orang Yunani, Arab, Romawi, Turki, dan lainnya. Mereka menikah dengan orang Yahudi yang bermukim di Samaria.
Sehingga terjadilah percampuran keturunan yang dianggap orang Yahudi sebagai orang berdosa dan kafir. Orang Yahudi versus orang Samaria yang tidak pernah bertegur sapa satu sama lain diceritakan dengan sangat apik oleh Tuhan Yesus. Yesus mau menggambarkan keadaan tentang kasih yang menembus batas batas tradisi dan budaya kolot.
Tuhan Yesus ingin mengetengahkan sebuah paradox tentang permusuhan yang hanya bisa dipadamkan dengan cinta kasih yang tulus. Dunia yang dikuasai dengan kebencian dan dendam dihalau oleh cinta kasih mahabesar yang memang harus menjadi senjata utama meredam perselisihan dan pertengkaran.
Mata ganti mata, gigi ganti gigi merupakan simbol pola dunia yang sudah rusak oleh dosa manusia sejak dahulu kala. Kasih dan kehidupan terasa merupakan suatu hal yang aneh untuk dipeluk dan dimiliki setiap insan di bumi ini. Bumi yang merupakan tempat berpijak manusia telah dirajai oleh peperangan, iri hati, percabulan, pembunuhan, pencurian, perusakan lingkungan, dan lain lain. Sehingga kasih Tuhan yang merupakan bekal terpenting dalam hidup manusia harus terabaikan dan ditinggalkan karena “kopong” (hampa) dan tak dapat dicurahkan air cinta kasih murni dari Tuhan Yesus.
“Tetapi Aku berkata kepadamu Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Pada ayat ini, Yesus mau mengajarkan hal yang amat fundamental dan hakiki dalam hidup manusia karena pondasi utama kehidupan manusia adalah kasih tak bersyarat kepada setiap manusia bahkan musuh sekalipun.
Musuh memang perlu mendapatkan kasih Tuhan yang dibagikan oleh manusia yang telah berakar dalam firman dan kasih Allah sendiri. Setiap manusia memiliki rival yang seringkali berseberangan dengannya namun hal tersebut tidak boleh menyurutkan kasih Tuhan yang senantiasa menggapai jiwa yang berpaut pada-Nya.
Manusia harus tetap mengasihi musuh yang memang tidak sejalan dengan pikiran dan rencana Tuhan sendiri. Karena kasih Tuhan memang harus senantiasa menguasai manusia hingga akhir masa. Kasih tidak berkesudahan nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti pengetahuan akan lenyap.”(1 Korintus 13:8).
Kasih Tuhan itu seperti matahari yang tidak akan pernah padam oleh apapun juga karena kasih Tuhan adalah milik-Nya yang senatiasa mengiringi lanngkah manusia menuju kehidupan kekal. Semua hal yang ada di bumi ini akan sirna ditelan waktu termasuk ilmu pegetahuan, bahasa roh dan nubuat karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
Akan tetapi, ada satu hal yanng tidak akan pernah bisa berhenti dan habis yaitu Kasih Tuhan yang selalu berdiam dalam diri manusia mendampingi semua ciptaan menuju keabadian. Si jahat alias iblis tidak memiliki kasih seperti yang ada dalam diri manusia karena iblis dan pasukannya merupakan penguasa dunia ini yang tidak akan pernah berhenti juga menarik manusia untuk berada dalam genggamannya melalui aneka bentuk godaan seperti perjudian, narkoba, perzinahan, pencurian, pembunuhan, pertengkaran, permusuhan, penipuan, korupsi, dan lain lain.
Maka dari itu kasih Tuhan senantiasa hadir menghalau semua bentuk kejahatan yang terpaksa dilakukan manusia, karena kasih Tuhan tidak bertahta dalam hatinya. Manusia yang melakukan kejahatan tidak dapat dihakimi bbegiu saja, karena kecenderungan mausia adalah satu frekuensi dengan penguasa dunia ini yaknni si jahat.
Tugas kita manusia yang telah beroleh rahmat pertobatan untuk mengisi hidup orang lain yang dikuasai oleh iri hati, dendam, kecewa, marah, dll. Kasih Tuhan tidak boleh lepas dari genggaman manusia sebab Kasih Tuhan adalah perisai hidup otomatis yang sudah ada dalam diri manusia sejak mereka diciptakan.
Manusia hanya perlu mengaktifasi saja kasih Tuhan yang ada dalam dirinya untuk dimanfatkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kasih-Nya tidak pernah selesai karena selalu baru setiap hari menemani manusia menghadapi aneka persoalan hidup yang siap membantainya. “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya Rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar Kesetiaan-Mu.” (Ratapan 3:22-23).
Kasih setia-Nya tidak pernah berkurang bagi orang yang senantiasa berharap pada janji keselamatan yang disabdakan-Nya. Kasih ini adalah kodratnya Tuhan yang tidak akan bisa hilang oleh apapun. Kodratnya Tuhan sebagai pencipta dunia ini adalah mengasihi, karena kasih tidak akan pernah dikalahkan oleh apapun dan oleh siapapun juga.
Kasih dan kebaikannya senantiasa membanjiri jiwa manusia yang terdistorsi oleh kesombongan dan kebohongan. Banjirnya kasih Tuhan dalam hidup manusia berpuncak pada hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus yang menapaki jalan jalan di Danau Galilea dua ribu tahun lalu.
Kasih Tuhan seperti ini tidak akan pernah dibendung oleh siapapun dan oleh siapapun. Berkat wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus, manusia beroleh kesempatan untuk menerima kasih Tuhan yang memang diperlukan bagi kehidupan berkesinambungan hingga hidup kekal.
Kasih Tuhan itu nyata dan konkrit yang terlihat amat jelas dalam diri Tuhan Yesus yang memberikan dirinya untuk disalibkan di Kota Yerusalem oleh tentara Romawi. Kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa keselamatan hidup manusia harus menjadi perhatian utama setiap orang yang berpegang pada janji-Nya.
Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar dari kebencian dan permusuhan bahkan Yesus mengampuni semua orang yang menyakiti-Nya saat tergantung di kayu salib. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34).
Pada Ayat ini sangatlah jelas bahwa Tuhan Yesus sungguh menyadari hal yang fundamental yakni semua orang yang menyakiti dirinya tidak paham akan rencana kasih Tuhan yang sungguh besar buat mereka dan Kodrat Yesus sebagai manusia 100 persen dan Allah 100 persen yang harus mengasihi siapapun yang menyakitinya tanpa syarat.
Kasih tanpa syarat ini merupakan rahmat belas kasih-Nya kepada siapapun yang mengasihi-Nya dengan segenap hati dan kekuatan. Yesus memerintahkan agar setiap orang mengasihi Allah dengan segenap hati, budi, pikiran dan kekuatan. Seirama degan itu manusia diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Matius 22: 37-40). Tuhan berkehendak sangat mulia dan penuh harap agar manusia menaati perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama dengan segenap hati, budi, kekuatan dan pikiran.
Kalau kita telaah kata perintah yang termuat dalam KBBI berarti perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu (suruhan). Kalau kita cermati kata perintah maka biasanya yang memberikan perintah adalah otoritas yang lebih tinggi dari yang disuruh untuk melakukan perintah tersebut adalah lebih rendah derajatnya dibanding yang memberikan perintah.
Yesus selaku Sang Pencipta dan Sang Pemberi Hidup memiliki otoritas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang merupakan ciptaan-Nya. Kekuasaan-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini dan kasih-Nya berada sangat tinggi melebihi cakrawala dan para dewata.
Hal paling utama ini (Kasih) bukanlah hal yang patut diremehkan dan dilupakan melainkan merupakan hal yang wajib dan harus dilakukan oleh setiap orang yang telah dibabtis dan lahir baru sebagai murid Yesus.
Kasih yang wajib dilakukan ini adalah sebuah daya ilahi super hebat yang dimiliki Tuhan dan dianugerahkan kepada manusia secara cuma-cuma dan terus-menerus tiada henti setiap hari mulai dari dulu, sekarang dan akan datang. Kasih ini senantiasa mengikis lapisan sampah dunia yang menempel pada jiwa manusia yang rapuh dan mudah terluka.
Kasih ini berusaha untuk merayap perlahan ke dalam sanubari manusia yang mendambakan kehidupan abadi bersama Allah Bapa dan para kudus di surga. Kasih ini berupaya menggapai kesadaran manusia untuk diindahkan kehadirannya karena jiwa manusia selalu dikekang oleh keinginan fana yang seringkali menjebaknya pada jurang kehancuran.
Kasih ini berupaya untuk dibiarkan mengalir dalam diri manusia karena jiwa manusia seringkali mendapat hantaman dari keinginannya sendiri yang menuntunnya pada kebinasaan kekal. Bila kasih ini sudah dibiarkan masuk dalam kesadaran manusia maka manusia akan senantiasa melaksanakan seluruh kehendak Tuhan yang tertera dalam kitab suci dan firman Tuhan pastinya akan tinggal dalam diri orang tersebut untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.
Tumbuhnya kasih Tuhan dalam diri manusia akan segera menguasai jiwanya bertahan dalam kondisi super sulit selama hidup di dunia ini. Oleh karena itu, manusia diharapakan membuka dirinya lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan yang adalah sumber kasih itu sendiri.
Terbukannya hati manusia pada kasih Tuhan akan menghantar manusia pada sukacita dan keebahagiaan yang sejati yang senantiasa melebur dalam darah manusia. Darah Yesus yang tertumpah di kayu salib telah menyelesaikan permusuhan besar antara manusia dan Tuhan.
“Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” ( Roma 5:9-11).
Pendamaian yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Kristus telah membawa manusia pada keehidupan yang sebelumnya saat masih “seteru” Allah, manusia tidak akan pernah bisa menggapai Allah yang Mahakuasa dan Maharahim.
Namun, manusia beroleh rahmat penebusan oleh darah Yesus yang tertumpah di kayu salib karena kasih yang tidak pernah berhenti dicurahkan ke dalam hati manusia. Pendamaian yang dilandasi oleh Kasih Allah merupakan pintu masuk emas bagi manusia untuk bersatu kembali dengan Tuhan di surga mulia.
Yesus yang telah mengalahkan kematian melalui kebangkitanya dari antara orang mati telah mengutus Roh Kudus sebagai teman hidup manusia menjalani hidup yang amat sulit ini. Roh Kudus yang telah dijanjikan oleh Tuhan menjadi daya ilahi luar biasa yang akan merasuki manusia yang berpegang pada kehendak Allah.
”Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21).
Pada ayat ini sangatlah jelas bahwa Roh Kudus yang telah menyatu dengan manusia akan memampukan manusia melaksanakan kehendak Tuhan dengan sempurna. Yesus sangat peduli dengan manusia dan menghendaki manusia bersatu dngan-Nya dalam keabadian di surga.
Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati manusia senantiasa menyuarakan kasih Tuhan karena Ia berasal dari Tuhan. Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam hati manusia juga merupakan tawaran indah bagi manusia untuk memiliki-Nya.
Bila Roh Kudus diabaikan, maka kasih Tuhan tidak akan berakar dan hilang dari jiwa manusia sehingga Tuhan tidak akan berdiam dalam diri manusia. Sudah selayaknya setiap manusia membiarkan roh kudus merajai dan menguasai diriya agar berkat Tuhan melimpah. (*)
MANUSIA YANG TIDAK PERNAH BERHENTI DIKASISHI OLEH TUHAN
Oleh Johans Libu Doni, SS (Penerjemah Ahli Muda pada Mahkamah Agung
Oleh Johans Libu Doni, SS (Penerjemah Ahli Muda pada Mahkamah Agung
Jakarta (suarsair.com)
Kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah berhenti menguasai hidup manusia sejak awal dunia. Kasih Tuhan senantiasa melekat dalam diri manusia karena manusia memiliki nilai yang paling berharga dalam pandangan Tuhan. Tidak ada yang lebih bernilai dan berarti selain manusia bagi Tuhan karena kasih Tuhan selalu ada dalam sanubari manusia yang paling dalam.
Sanubari terdalam manusia senantiasa menyuarakan kebaikan Tuhan yang Maha Kasih karena kasih Tuhan tidak akan pernah bisa dibendung oleh kekuatan apapun di dunia ini untuk senantiasa hadir mengisi kekosogan hidup manusia.
Akan tetapi manusia acapkali tidak pernah mau medengar suara lembut Tuhan yang sangat mengasihinya karena dihalangi oleh kesombongan dan keangkuhan yang seringkali menjebloskan manusia pada jurang maut. Terinterupsinya kasih Tuhan oleh keinginan manusia yang cogkak merupakan hal yang alamiah karena manusia memiliki kecenderungan untuk keluar jalur yang telah ditetapkan oleh Tuhan sejak dosa adam merambah jiwa manusia.
Hal yang alamiah (dosa adam) ini akan selalu hadir dalam diri manusia untuk menggeser kasih Tuhan agar tidak disadari oleh setiap insan yang pada hakikatya bersatu dengan Tuhan. Maka dari itu kesadaran penuh akan kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup manusia janganlah dibiarkan tumpul dan terhambat oleh ketamakan karena hanya kasih Tuhan saja yang akan menghantar manusia pada kebahagiaan dan kedamaian sejati.
Kisah tentang orang samaria yang baik hati dalam injil Lukas menjadi sebuah perenungan mendalam bagi setiap umat manusia. Dalam injil Lukas 10 : 25-37 digambarkan tentang situasi sulit seorang Yahudi yang dirampok dan dianiaya oleh gerombolan pembegal yang sangat ganas dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yericho.
Semua miliknya telah dirampok oleh para pembegal yag tidak kenal belas kasih sedikitpun. Bahkan keadaan tubuhnya penuh dengan luka yang sangat parah sehingga ia tergeletak di tengah jalan tanpa bantuan orang lain. Orang Yahudi tersebut sungguh tidak berdaya sama sekali karena dirinya betul-betul terluka sangat serius sehingga tidak mugkin untuk berjalan mencari pertolongan.
Pada saat yang sama muncullah seorang imam yang sedang lewat di jalan tersebut, namun sang imam tidak mempedulikan keadaan orang tersebut dan meneruskan perjalanannya. Berikutnya datanglah juga seorang Lewi ke tempat tersebut dan saat melihat keadaan orang Yahudi itu dia juga memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya tanpa muncul rasa iba sedikitpun.
Hingga pada akhirnya muncullah seorang Samaria yang sedang menyusuri daerah itu dan langsung berpapasan dengan orang Yahudi yang tergeletak setengah mati di tengah jalan dengan keadaan yang amat mengenaskan. Dia menghampiri orang Yahudi tersebut dan tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. (Lukas 10:33-35).
Orang Samaria memutuskan untuk mendatangi dengan penuh belas kasih tempat kejadian perkara di mana orang Yahudi tersebut tergeletak tak berdaya sama sekali. Ia datang dengan niat tulus dan penuh dedikasi pada kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.
Tidak ada pamrih sedikitpun dalam diri orang samaria, karena dorongan kasih Tuhan sendiri yang menuntunnya pada orang yang Yahudi yang sungguh memilukan hati dengan keadaan fisiknya yang penuh darah. Pikiran dan hatinya hanya menginginkan keselamatan orang Yahudi segera terjadi karena Tuhan senantiasa menghendaki kesembuhan dan pemulihan berlangsung segera.
Kehendak Tuhan yang menguasai hati orang samaria yang murah hati tersebut menyalakan api cinta kasih yang memang milik Tuhan sendiri. Tuhanlah yang menyalakan api cinta kasih tersebut, karena orang samaria ini memang telah dialiri kasih sejati yang bersumber dari Tuhan sendiri.
Ia segera mengobati luka luka orang Yahudi tersebut dan meletakkannya di atas pelana keledai yang telah ditungganginya. Lantas orang Samaria segera menuntun keledainya dengan orang Yahudi terluka yang ada di atas pelana keledainya menuju tempat penginapan terdekat.
Ia telah memutuskan untuk merawat orang Yahudi tersebut di tempat penginapan agar luka lukanya bisa segera sembuh. Orang Samaria yang tidak disebutkan namanya dalam injil ini merawat orang Yahudi yang tidak dikenalnya sama sekali.
Ini merupakan tindakan yang sangat mulia bagi seorang manusia yang memang secara adat istiadar tidak memiliki hubungan yang sangat baik. Orang Samaria dan orang Yahudi tidak pernah memiliki hubungan yang baik karena orang Yahudi menganggap bahwa orang Samaria telah menjadi kafir dengan menikahi orang bukan Yahudi.
Orang Yahudi beranggapan bahwa orang Samaria sudah bukan lagi bagian orang Israel yang memiliki keselamatan dari Allah Yahwe. Dalam kepercayaan agama Yahudi setiap orang yang bukan Yahudi dianggap najis dan kafir sehingga tidak perlu didekati. Pada zaman Yesus banyak orang bukan Yahudi bermukim di Samaria yaitu di sebelah utara Danau Galilea. Mereka adalah orang Yunani, Arab, Romawi, Turki, dan lainnya. Mereka menikah dengan orang Yahudi yang bermukim di Samaria.
Sehingga terjadilah percampuran keturunan yang dianggap orang Yahudi sebagai orang berdosa dan kafir. Orang Yahudi versus orang Samaria yang tidak pernah bertegur sapa satu sama lain diceritakan dengan sangat apik oleh Tuhan Yesus. Yesus mau menggambarkan keadaan tentang kasih yang menembus batas batas tradisi dan budaya kolot.
Tuhan Yesus ingin mengetengahkan sebuah paradox tentang permusuhan yang hanya bisa dipadamkan dengan cinta kasih yang tulus. Dunia yang dikuasai dengan kebencian dan dendam dihalau oleh cinta kasih mahabesar yang memang harus menjadi senjata utama meredam perselisihan dan pertengkaran.
Mata ganti mata, gigi ganti gigi merupakan simbol pola dunia yang sudah rusak oleh dosa manusia sejak dahulu kala. Kasih dan kehidupan terasa merupakan suatu hal yang aneh untuk dipeluk dan dimiliki setiap insan di bumi ini. Bumi yang merupakan tempat berpijak manusia telah dirajai oleh peperangan, iri hati, percabulan, pembunuhan, pencurian, perusakan lingkungan, dan lain lain. Sehingga kasih Tuhan yang merupakan bekal terpenting dalam hidup manusia harus terabaikan dan ditinggalkan karena “kopong” (hampa) dan tak dapat dicurahkan air cinta kasih murni dari Tuhan Yesus.
“Tetapi Aku berkata kepadamu Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Pada ayat ini, Yesus mau mengajarkan hal yang amat fundamental dan hakiki dalam hidup manusia karena pondasi utama kehidupan manusia adalah kasih tak bersyarat kepada setiap manusia bahkan musuh sekalipun.
Musuh memang perlu mendapatkan kasih Tuhan yang dibagikan oleh manusia yang telah berakar dalam firman dan kasih Allah sendiri. Setiap manusia memiliki rival yang seringkali berseberangan dengannya namun hal tersebut tidak boleh menyurutkan kasih Tuhan yang senantiasa menggapai jiwa yang berpaut pada-Nya.
Manusia harus tetap mengasihi musuh yang memang tidak sejalan dengan pikiran dan rencana Tuhan sendiri. Karena kasih Tuhan memang harus senantiasa menguasai manusia hingga akhir masa. Kasih tidak berkesudahan nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti pengetahuan akan lenyap.”(1 Korintus 13:8).
Kasih Tuhan itu seperti matahari yang tidak akan pernah padam oleh apapun juga karena kasih Tuhan adalah milik-Nya yang senatiasa mengiringi lanngkah manusia menuju kehidupan kekal. Semua hal yang ada di bumi ini akan sirna ditelan waktu termasuk ilmu pegetahuan, bahasa roh dan nubuat karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan.
Akan tetapi, ada satu hal yanng tidak akan pernah bisa berhenti dan habis yaitu Kasih Tuhan yang selalu berdiam dalam diri manusia mendampingi semua ciptaan menuju keabadian. Si jahat alias iblis tidak memiliki kasih seperti yang ada dalam diri manusia karena iblis dan pasukannya merupakan penguasa dunia ini yang tidak akan pernah berhenti juga menarik manusia untuk berada dalam genggamannya melalui aneka bentuk godaan seperti perjudian, narkoba, perzinahan, pencurian, pembunuhan, pertengkaran, permusuhan, penipuan, korupsi, dan lain lain.
Maka dari itu kasih Tuhan senantiasa hadir menghalau semua bentuk kejahatan yang terpaksa dilakukan manusia, karena kasih Tuhan tidak bertahta dalam hatinya. Manusia yang melakukan kejahatan tidak dapat dihakimi bbegiu saja, karena kecenderungan mausia adalah satu frekuensi dengan penguasa dunia ini yaknni si jahat.
Tugas kita manusia yang telah beroleh rahmat pertobatan untuk mengisi hidup orang lain yang dikuasai oleh iri hati, dendam, kecewa, marah, dll. Kasih Tuhan tidak boleh lepas dari genggaman manusia sebab Kasih Tuhan adalah perisai hidup otomatis yang sudah ada dalam diri manusia sejak mereka diciptakan.
Manusia hanya perlu mengaktifasi saja kasih Tuhan yang ada dalam dirinya untuk dimanfatkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kasih-Nya tidak pernah selesai karena selalu baru setiap hari menemani manusia menghadapi aneka persoalan hidup yang siap membantainya. “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya Rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar Kesetiaan-Mu.” (Ratapan 3:22-23).
Kasih setia-Nya tidak pernah berkurang bagi orang yang senantiasa berharap pada janji keselamatan yang disabdakan-Nya. Kasih ini adalah kodratnya Tuhan yang tidak akan bisa hilang oleh apapun. Kodratnya Tuhan sebagai pencipta dunia ini adalah mengasihi, karena kasih tidak akan pernah dikalahkan oleh apapun dan oleh siapapun juga.
Kasih dan kebaikannya senantiasa membanjiri jiwa manusia yang terdistorsi oleh kesombongan dan kebohongan. Banjirnya kasih Tuhan dalam hidup manusia berpuncak pada hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus yang menapaki jalan jalan di Danau Galilea dua ribu tahun lalu.
Kasih Tuhan seperti ini tidak akan pernah dibendung oleh siapapun dan oleh siapapun. Berkat wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus, manusia beroleh kesempatan untuk menerima kasih Tuhan yang memang diperlukan bagi kehidupan berkesinambungan hingga hidup kekal.
Kasih Tuhan itu nyata dan konkrit yang terlihat amat jelas dalam diri Tuhan Yesus yang memberikan dirinya untuk disalibkan di Kota Yerusalem oleh tentara Romawi. Kematian Yesus di kayu salib membuktikan bahwa keselamatan hidup manusia harus menjadi perhatian utama setiap orang yang berpegang pada janji-Nya.
Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar dari kebencian dan permusuhan bahkan Yesus mengampuni semua orang yang menyakiti-Nya saat tergantung di kayu salib. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34).
Pada Ayat ini sangatlah jelas bahwa Tuhan Yesus sungguh menyadari hal yang fundamental yakni semua orang yang menyakiti dirinya tidak paham akan rencana kasih Tuhan yang sungguh besar buat mereka dan Kodrat Yesus sebagai manusia 100 persen dan Allah 100 persen yang harus mengasihi siapapun yang menyakitinya tanpa syarat.
Kasih tanpa syarat ini merupakan rahmat belas kasih-Nya kepada siapapun yang mengasihi-Nya dengan segenap hati dan kekuatan. Yesus memerintahkan agar setiap orang mengasihi Allah dengan segenap hati, budi, pikiran dan kekuatan. Seirama degan itu manusia diperintahkan untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Matius 22: 37-40). Tuhan berkehendak sangat mulia dan penuh harap agar manusia menaati perintah Yesus untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama dengan segenap hati, budi, kekuatan dan pikiran.
Kalau kita telaah kata perintah yang termuat dalam KBBI berarti perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu (suruhan). Kalau kita cermati kata perintah maka biasanya yang memberikan perintah adalah otoritas yang lebih tinggi dari yang disuruh untuk melakukan perintah tersebut adalah lebih rendah derajatnya dibanding yang memberikan perintah.
Yesus selaku Sang Pencipta dan Sang Pemberi Hidup memiliki otoritas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan manusia yang merupakan ciptaan-Nya. Kekuasaan-Nya melebihi apapun yang ada di dunia ini dan kasih-Nya berada sangat tinggi melebihi cakrawala dan para dewata.
Hal paling utama ini (Kasih) bukanlah hal yang patut diremehkan dan dilupakan melainkan merupakan hal yang wajib dan harus dilakukan oleh setiap orang yang telah dibabtis dan lahir baru sebagai murid Yesus.
Kasih yang wajib dilakukan ini adalah sebuah daya ilahi super hebat yang dimiliki Tuhan dan dianugerahkan kepada manusia secara cuma-cuma dan terus-menerus tiada henti setiap hari mulai dari dulu, sekarang dan akan datang. Kasih ini senantiasa mengikis lapisan sampah dunia yang menempel pada jiwa manusia yang rapuh dan mudah terluka.
Kasih ini berusaha untuk merayap perlahan ke dalam sanubari manusia yang mendambakan kehidupan abadi bersama Allah Bapa dan para kudus di surga. Kasih ini berupaya menggapai kesadaran manusia untuk diindahkan kehadirannya karena jiwa manusia selalu dikekang oleh keinginan fana yang seringkali menjebaknya pada jurang kehancuran.
Kasih ini berupaya untuk dibiarkan mengalir dalam diri manusia karena jiwa manusia seringkali mendapat hantaman dari keinginannya sendiri yang menuntunnya pada kebinasaan kekal. Bila kasih ini sudah dibiarkan masuk dalam kesadaran manusia maka manusia akan senantiasa melaksanakan seluruh kehendak Tuhan yang tertera dalam kitab suci dan firman Tuhan pastinya akan tinggal dalam diri orang tersebut untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.
Tumbuhnya kasih Tuhan dalam diri manusia akan segera menguasai jiwanya bertahan dalam kondisi super sulit selama hidup di dunia ini. Oleh karena itu, manusia diharapakan membuka dirinya lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan yang adalah sumber kasih itu sendiri.
Terbukannya hati manusia pada kasih Tuhan akan menghantar manusia pada sukacita dan keebahagiaan yang sejati yang senantiasa melebur dalam darah manusia. Darah Yesus yang tertumpah di kayu salib telah menyelesaikan permusuhan besar antara manusia dan Tuhan.
“Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” ( Roma 5:9-11).
Pendamaian yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Kristus telah membawa manusia pada keehidupan yang sebelumnya saat masih “seteru” Allah, manusia tidak akan pernah bisa menggapai Allah yang Mahakuasa dan Maharahim.
Namun, manusia beroleh rahmat penebusan oleh darah Yesus yang tertumpah di kayu salib karena kasih yang tidak pernah berhenti dicurahkan ke dalam hati manusia. Pendamaian yang dilandasi oleh Kasih Allah merupakan pintu masuk emas bagi manusia untuk bersatu kembali dengan Tuhan di surga mulia.
Yesus yang telah mengalahkan kematian melalui kebangkitanya dari antara orang mati telah mengutus Roh Kudus sebagai teman hidup manusia menjalani hidup yang amat sulit ini. Roh Kudus yang telah dijanjikan oleh Tuhan menjadi daya ilahi luar biasa yang akan merasuki manusia yang berpegang pada kehendak Allah.
”Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21).
Pada ayat ini sangatlah jelas bahwa Roh Kudus yang telah menyatu dengan manusia akan memampukan manusia melaksanakan kehendak Tuhan dengan sempurna. Yesus sangat peduli dengan manusia dan menghendaki manusia bersatu dngan-Nya dalam keabadian di surga.
Roh Kudus yang dicurahkan dalam hati manusia senantiasa menyuarakan kasih Tuhan karena Ia berasal dari Tuhan. Roh Kudus yang telah dicurahkan dalam hati manusia juga merupakan tawaran indah bagi manusia untuk memiliki-Nya.
Bila Roh Kudus diabaikan, maka kasih Tuhan tidak akan berakar dan hilang dari jiwa manusia sehingga Tuhan tidak akan berdiam dalam diri manusia. Sudah selayaknya setiap manusia membiarkan roh kudus merajai dan menguasai diriya. (*)












