Jakarta (suarsair.com)
Pancaran kasih Tuhan yang bersinar di tengah kegelapan dosa tentunya amat dirindukan oleh setiap orang yang berkehendak baik. Terang kasih Tuhan ini tentunya menyinari gelapnya hidup manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu dan kebencian.
Bersinarnya kasih Tuhan amatlah diidam-idamkan oleh setiap manusia yang terjeblos dalam lubang dosa yang menghancurkan jiwanya. Tanpa pancaran kasih Tuhan, manusia tidak dapat menemukan Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidupnya.
Hal ini amatlah lumrah karena setiap manusia memiliki kecenderungan untuk terjatuh dalam dosa yang sama. Sekalipun demikian, manusia berusaha untuk berjalan menuju terang kehidupan untuk menggapai keabadian bersama Tuhan Yesus.
Perjalanan menuju terang ilahi bukanlah sebuah sulap, karena hambatan dan rintangan senantiasa menghadang derap langkah manusia untuk menikmati terang kasih-Nya. Oleh karena itu, kesabaran dan ketekunan amatlah diperlukan untuk mengiringi langkah manusia menuju terang yang tidak akan pernah padam.
Perjalanan menuju cahaya juga dilakukan oleh seorang wanita berdosa di sebuah kota yang bernama Betania. Ia sangat terpikat oleh Tuhan Yesus yang berada di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Wanita berdosa tersebut segera pergi menyongsong Yesus yang tengah duduk makan bersama murid-murid-Nya.
“Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi.” (Lukas 7:36).
Wanita berdosa yang mendambakan kasih sayang Tuhan segera menyusuri kota Betania dan masuk ke rumah Simon, orang farisi, yang rumahnya disinggahi Tuhan Yesus. Ia sangat terpikat oleh pancaran kasih Tuhan yang menerangi jalan hidupnya untuk mengarah pada kehidupan kekal.
Ia begitu bersemangat untuk menyambut Tuhan Yesus yang begitu mempesona jiwanya yang haus akan air kehidupan yang akan segera ia terima dari Tuhan Yesus. Dia datang dengan membawa minyak buli-buli pualam yang amat mahal harganya pada saat itu untuk meminyaki kaki Yesus dengan minyak dan menyekanya dengan rambutnya.
Kasih sayang Tuhan yang amat menarik bagi jiwanya memiliki daya Ilahi yang begitu kuat untuk segera dihampiri dan ditemui. Wanita berdosa memang adalah warga kelas dua dan tentunya tidak akan mendapat tempat dalam pergaulan sosial di masyarkat Yahudi.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Wanita berdosa memiliki perilaku yang amat dilarang dalam ajaran agama Yahudi terutama melakukan hubungan seks dengan banyak lelaki dan menerima uang daripadanya. Pekerjaan wanita tuna susila ini merupakan hal yang dibenci oleh masyarakat Yahudi sehingga wanita seperti ini harus dikucilkan dan dibuang dari pergaulan normal.
Hal semacam ini menyebabkan sang wanita tenggelam dalam kekosogan dan kehampaan jiwa yang akan menuntunnya pada kebinasaan kekal. Penolakan dan kekosongan jiwanya hanya bisa dipenuhi oleh Tuhan Yesus sebagai otoritas tertinggi dari dunia ini. Penyakit berbahaya yang bernama penolakan telah merusak jiwa wanita berdosa tersebut.
Wanita itu perlahan-lahan menapaki jalan terang yang telah dibentangkan oleh Tuhan Yesus bagi dirinya untuk terlelap dalam dekapan hangat Tuhan Yesus. Perjalanan bersama Yesus tidak akan masuk jurang maut, namun mampu melewatinya karena kuasa Tuhan Yesus berada di atas kuasa apapun yang ada di bumi ini.
“Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”(Lukas 7:38).
Suara tangisan perempuan teersebut menyiratkan pilu yang amat menyakitkan jiwanya yang rapuh oleh penolakan orang-orang sebangsanya. Ia tidak sanggup menahannya karena jiwanya ingin masuk dalam rangkulan kasih Tuhan yang penuh kasih sayang mahadahsyat.
Tangisan ini adalah bukti konkrit keseriusannya bersandar sepenuhnya pada bahu Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber pemuas jiwanya yang haus akan embun cinta. Daya pikat kasih Tuhan Yesus telah menarik jiwanya untuk mendekat pada air hidup yang meyegarkan jiwa yang layu oleh hawa nafsu dan perzinahan.
Ia mau kembali pada hakikat jiwanya, yaitu menyatu degan penciptanya dan pemberi hidup yang tidak aka pernah meninggalkannya. Perempuan berdosa ini berada pada posisi orang yang dianggap tidak penting, tak bermoral, tersudutkan, terbuang, terlupakan, tertekan, warga kelas bawah, dainggap sampah masyarakat, dianggap tidak ada, terblokir identitasnya dan lain-lain.
Hal ini sangat merusak pikiran dan jiwanya yang mendambakan ulura tangan kasih yang lembut untuk menuntunnya pada sukacita surgawi. kasih sayang Tuhan Yesus adalah obat mujarab untuk mengosongkan semua beban derita jiwanya yang tandus untuk segera beranjak pada sumber kehidupan abadi. Hal tersebut tentu tidaklah mudah karena penolakan dari para kaum farisi sebagai salah satu penjaga adat-istiadat agama Yahudi sejak jaman nabi musa.
Benteng penolakan, kecongkakan, kemunafikan, kebencian dari orang farisi dan banngsa Yahudi menjadi raksasa yang siap melahap wanita berdosa untuk berputusasa, kecewa, tak berdaya, tertekan karena penolakan yang tak dapat ia atasi sendirian.
Wanita berdosa ini memutuskan untuk datang pada Tuhan Yesus sebagai satu-satunya sumber kasih sayang, harapan, sukacita, damai sejahtera, iman dan kehidupan kekal yang akan menemainya berjalan dalam badai kehidupan yang tidak akan pernah selesai selama ia masih hidup di dunia.
Dunia tempat wanita berdosa ini berpijak adalah tempat yang penuh dengan kebencian, kejahatan, kemunafikan, kepalsuan, pembunuhan, dendam, perundungan, intrik jahat yang tidak akan pernah berhenti mengisi dunia ini. Dunia ini dikuasai oleh gelapnya kejahatan yang akan selalu menarik setiap orang agar masuk ke dalamnya karena nikmatnya dunia bisa membuat orang berat hidup.
Manusia yang hidup di dunia ini memang bisa bertahan hidup dengan kesenangan dan ketenangan melalui tamasya, karaoke, dugem, pergi ke taman ria, pesta pora, narkoba, minum minuman keras, menonton bioskop, pijat, dan lain-lain. Namun semua hal itu tidak akan pernah bisa mengisi sebuah ruang dalam jiwa manusia yang hanya bisa diisi oleh kasih sayang Tuhan Yesus.
Kasih Sayang Tuhan Yesus ini memang tidak akan bisa masuk begitu saja kepada jiwa mausia bila manusia tidak menghendakinya, karena jiwa manusia seringkali diisi oleh sampah dunia yang akan menghancurkan jiwanya yang fana. Sampah dunia ini adalah iri hati, kedengkian, kekecwaan, ketidakberdayaan, tipu daya.
Sampah dunia ini hanya bisa dibersihkan dengan Air Hidup, yaitu kasih sayang Tuhan sendiri. Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (Lukas 7:44-47).
Dalam ayat ini Tuhan Yesus sungguh menyambut wanita berdosa yang datang dengan hati yang hancur dan membutuhkan pertolongan. Megapa wanita ini membutuhkan pertolongan? Wanita ini membutuhkan pertolongan karena jiwanya yang dikuasai oleh penolakan dan kebencian telah tenggelam dalam kesedihan mendalam sehingga tangan kasih Tuhan perlu campur tangan dalam membersihakn sampah dunia yang menghambat karunia, serta rahmat kebaikan yang aka segera menghidupi jiwanya yang kosong.
Dalam adat istiadat Yahudi bila seorang tamu bertandang ke rumah sahabat atau saudaranya, maka kewajiban tuan rumah untuk membasuh tangan tamunya, meminyaki kepalanya dengan minyak dan mencium pipinya sebagai tanda pembersihan sang tamu dari hal-hal jahat dan ciuman sebagai tanda persaudaraan sejati.
Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh tuan rumah, Pak Simon sang orang farisi kepada Tuhan Yesus. Hal tersebut dilakukan oleh seorang wanita berdosa yang tidak dikenal Tuhan Yesus dengan meminyaki kaki Tuhan Yesus dan meciumi kaki Tuhan Yesus terus menerus.
Air matanya tidak pernah putus membasahi kaki Tuhan Yesus yang seharusnya dibasuh oleh air yang ada di rumah pak Simon, oramg farisi itu. Air mata yang menetes di kaki Tuhan Yesus diseka dengan rambut sang wanita berdosa agar segera kering kembali. Air matanya tidak pernah berhenti menetes di kaki Tuha Yesus dan dia juga tidak pernah berhenti menciumi kaki Tuhan Yesus degan bibirnya yang sudah lama terbius oleh dosa dengan mencium lelaki hidung belang.
Benteng-benteng penolakan berusaha ditembus oleh sang wanita berdosa degan kasih yang tulus murni agar kasih Tuhan Yesus mengalir ke dalam dirinya. Kasih seperti ini merupakan inti dari hidup mausia yang juga dirindukan oleh Tuhan Yesus, karena kasih seperti itu adalah milik Allah.
Allah adalah kasih yang telah menganugerahkan kasih-Nya kepada manusia secara cuma-cuma tanpa disadari oleh manusia keberadaannya, karena kasih itu berada di dalam sanubari manusia yang paling dalam.Tanpa pertolongan Tuhan Yesus maka kasih seperti itu tidak akan pernah hadir dalam hidup manusia karena Kasih seperti wanita berdosa itu dianugerahkan kepada siapapu yang dikehendaki-Nya.
Tuhan Yesus berkehendak untuk menganugerahkan kasih tersebut kepada wanita berdosa ini, karena jiwa wanita ini telah berteriak hari demi hari memohon pertolongan-Nya. Tuhan Yesus dengan otoritas-Nya akan segera megampuni dosa wanita tersebut, karena jiwa wanita ini membutuhkan keselamatan yang teelah dianugerahkan kepadanya sejak awal dunia.
Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “dosamu telah diampuni.”(Lukas 7:48). Tindakan Yesus Mengampuni wanita berdosa tersebut merupakan bukti nyata belas kasih-Nya yang amat besar yang tidak akan pernah bisa dibendung oleh apapun.
Saat itu juga si wanita yang telah diampuni oleh Tuhan Yesus pasti merasakan kelegaan yang sangat besar karena Air Kehidupan telah mengalir deras ke dalam jiwa dan rohnya. Air kehidupan inilah yang sudah dinantikan dan didambakan oleh sang wanita berdosa untuk bertumbuh dalam iman kepada Tuhan Yesus.
Jiwanya yang gersang perlahan-lahan dibasahi oleh Air Kehidupan kekal yang memang diidam-idamkan oleh sang wanita berdosa. Yesus sang alfa dam omega, pemilik jiwa setiap manusia telah merajai jiwa wanita berdosa untuk senantiasa menemani sang wanita kemanpun ia melangkah.
Pengampunan adalah sebuah rahmat kebaikan paling besar dalam hidupnya, karena Yesus rela meyapanya, membelanya di depan orang farisi, Yesus juga tidak menghakiminya. Yesus menerimanya dengan keadaannya yang berdosa untuk masuk dalam koridor keselamatan yang sudah menjadi grand design Allah sendiri.
Tuhan Yesus telah memikat jiwa wanita tersebut untuk meyatu dalam hidup-Nya yang penuh kasih dan berkelimpahan. Tuhan Yesus mengundang wanita berdosa untuk bertobat dan mengubah arah hidupnya menuju jalan keselamatan abadi yang memang tidak banyak orang bisa melewatinya.
Jalan keselamatan itu memang milik semua orang beriman, namun Tuhan Yesus akan berkenan kepada setiap orang yang patuh dan taat pada kehendak-Nya. Pertemuan antara Pencipta jagad raya dengan wanita berdosa yang tak berdaya adalah sebuah pemandangan sangat indah, karena Tuhan Yesus selaku raja semesta alam rela turun ke dunia yang telah bobrok oleh dosa dan mengampuni wanita berdosa yang sangat mendambakan kasih sayang surgawi.
Pertemuan dua pribadi ini merupakan momen penting bagi hidup manusia dewasa, ini artinya setiap manusia merupakan hal yang paling utama dalam pikiran Tuhan Yesus. Tidak ada yang paling berharga selain manusia sebagai ciptaan yang membutuhkan Tuhannya.
Sebaliknya manusia juga sebenarnya sangatlah membutuhkan Tuhan, tetapi tergantikan oleh pengejaran kekayaan dan jabatan, ketaatan pada hawa nafsu perzinahan, dan kecintaan akan uang. Hal ini memang sangat lumrah, karena dikuasainnya manusia oleh hal-hal tersebut merupakan perjalanan yang harus dilalui manusia untuk sampai pada Tuhan Yesus.
Wanita berdosa telah sampai pada tujuannya yang sejati, yaitu kasih karunia Tuhan Yesus. Kasih karunia Tuhan Yesus adalah modal utama untuk berhadapan dengan aneka ragam persoalan yang datang silih berganti.
Wanita berdosa ini telah mendapatkan sebuah jackpot untuk memelihara hidupya agar dikuasai hanya oleh Tuhan Yesus sebagai satu-satuya sumber dan tujuan hidup mausia. Kelegaan wanita tersebut akan air kehidupan kekal merupakan buah dari penantiannya yang sangat panjang.
Penantian akan kasih karunia mahadahsyat yang akan membersihkan jiwa yang rapuh akibat penolakan, kekecewaan dan kekosongan. Hal tersbut adalah hadiah yang paling berharga bagi wanita tersebut, karena Tuhan adalah satu-satuya permata indah yang akan menemaninya untuk masuk dalam kebahagiaan abadi.
Pertemuan dua pribadi yang saling merindukan ini tentunya tidak disukai oleh para orang farisi yang hidup di Betania. Mereka terganggu dengan dua hal yang menjadi pertanyaan besar buat mereka. Pertanyaan pertama: mengapa Yesus mau duduk dekat-dekat dengan wanita berdosa.
Kedua, mengapa Yesus mengatakan kepada wanita berdosa tersebut dosamu sudah diampuni? Jawaban dari dua hal tersebut adalah pertama Tuhan Yesus memutuskan untuk tetap tidak menjauh dari wanita tersebut, karena kasih yang ditunjukan oleh wanita berdosa ini menggerakkan hati-Nya yang penuh kasih untuk megampuninya dengan penuh keyakinan.
Ketiga, Tuhan Yesus sangat memiliki otoritas untuk mengampuni dosa manusia yang mendambakan kasih sayang Tuhan. Orang-orang farisi yang makan bersama Tuhan Yesus di betania sangat heran terhadap kejadian yang baru saja terjadi, karena pegampunan itu hanya bisa dilakukan oleh Tuhan sendiri, tapi orang-orang tersebut mendengar Yesus mengampuni wanita berdosa tersebut.
Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” (Lukas 7:49). Orang-orang farisi yang hadir saat makan malam sangat terperanjat dan bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan orang ini sehingga bisa mengampuni dosa.
Dalam kepercayaan orang Yahudi hanya Tuhan yang bisa mengampui dosa dan bila ada mausia biasa yang mengatakan bahwa dia mengampuni dosa orang, maka orang tersebut dianggap menghujat Allah. Hal ini nantinya akan jadi bahan mereka untuk menjerat Yesus di hadapan mahkamah agama di Yerusalem.
Dari ayat yang yang disajikan di atas kita dapat melihat dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang makan bersama Yesus tidaklah mengenal Tuhan Yesus, karena Yesus adalah anak dari Yusuf dan Maria yang dibesarkan di kota Nazareth. Ketidakkenalan orang-orang farisi terhadap pribadi Yesus merupakan bukti faktual bahwa Tuhan tidaklah akan pernah dimengerti oleh semua orang, karena rahmat pengenalan akan Tuhan tidak dianugerahkan kepada setiap insan.
Kegagalan akan pengenalan Tuhan menjadikan orang-orang tersebut menjadi misinterprtasi terhadap peristiwa yang baru saja berlangsung di hadapan mata mereka. Manusia yang hidup pada zaman sekarang juga perlu belajar bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam hidup kita, namun kehadirannya gagal disadari sehingga kehampaan dan kekosongan menjadi akibat akhir dari kebodohan manusia.
Manusia yang tidak mengenal Tuhan akan terjeblos dalam ketidakbahagiaan dan kesia-siaan, karena pribadi Tuhan merupakan sumber rahmat kasih yang menghidupi setiap manusia melalui firman-Nya.
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”(Yohanes 15:7).
Dalam ayat ini, Tuhan Yesus mengundang setiap orag untuk menyimpan firman-Nya dalam hati agar semua kehendak kita dapat dipenuhi oleh Tuhan. Kehendak Tuhan itu ada dalam firman-Nya yang senantiasa menerangi langkah manusia untuk menapaki jalan terang.
Tanpa terang Ilahi, manusia tidak dapat menyadari kehadira Tuhan, terang ilahi itu berasal dari firman-Nya. Maka dari itu setiap manusia diundang untuk membiarkan firman Tuhan menetap dalam hatinya, lewat membaca kitab suci secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, mengenal Tuhan Yesus sebagai firma yang hidup haruslah dilakukan setiap hari dan tanpa kenal lelah sebab Yesus satu-satunya alasan manusia untuk bertindak dan mengasihi sesama dan bahkan musuh sekalipun.
Banyak manusia yang telah mati secara rohani, namun hidup secara fisik karena gagal mengenal Tuhan Yesus dan kehendak-Nya lantaran hidupnnya dikuasai oleh aturan-aturan keagamaan yang membentengi kasih sayang Tuhan untuk masuk dalam hidupnya.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”(1 Korintus 13:2-3).
Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menekankan bahwa kasih merupakan hal yang sangat fundamental wajib dijalankan dan dipraktekkan tanpa henti dibandingkan dengan pengetahuan dan keberanian untuk dibakar karena iman.
Tanpa kasih maka semua yang kita miliki adalah sia-sia belaka. Allah adalah kasih dan setiap orang yang mengasihi berasal dari Allah serta mengenal Allah. Maka dari itu kasih adalah satu-satunnya jamian untuk menyatu dengan Allah yang tidak kelihatan. Bila kita tidak bisa mengasihi manusia yang kelihatan, maka sangatlah sukar untuk mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan.
Lantas, apakah kasih Tuhan sudah kita miliki sekarang ataukah kita masih jauh dari kasih itu? Jawaban ini diserahkan kepada kita masing-masing untuk merespon kasih Tuhan yang tidak ada batasnya.
Wanita berdosa mendapatka kasih Tuhan karena Ia betul-betul terpikat dan terkesima oleh kasih Tuhan yang begitu besar. Makanya jiwa wanita berdosa yang datang kepada Yesus benar-benar dipulihkan dan ditahirkan untuk menyatu dengan kasih Tuhan yang abadi. Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” ( Lukas 7:50).
Ayat ini sangatlah jelas, Tuhan Yesus betul-betul menyatakan bahwa wanita berdosa tersebut telah lepas dari dosa dan diperdamaikan dengan Tuhan dan sesama. Keselamatan kekal juga telah dianugerahkan kepadanya secara cuma-cuma. Wanita berdosa yang terpikat oleh kasih Tuhan telah kembali pulang kepada kodratnya yang mula-mula yaitu bersatu dengan sumber kasih abadi yaitu Tuhan Yesus raja kemuliaan kekal.
GPS yang telah ditanam oleh Tuhan Yesus kepada wanita ini akhirnya terdeteksi oleh pemilik-Nya. Wanita berdosa menemukan pencipta-Nya sedangkan Tuhan Yesus menemukan ciptaan-Nya yang akan segera kembali pulang bersama-Nya ke surga.
Wanita berdosa tersebut telah terlihat jelas oleh Tuhan Yesus karena jiwanya yang amat merindukan-Nya untuk tinggal bersama wanita tersebut. Jiwa wanita tersebut telah betul-betul tenang dan lega karena sang pemilik jiwa telah menjemputnya untuk kembali pulang dan hidup bersama-sama lagi dengan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya pemuas dahaga jiwa yang tidak akan pernah pergi dari wanita tersebut sedetikpun.
Jiwa yang retak telah pulih dan bersandar secara penuh di dada pencipta-Nya yang amat penuh kasih sayang yang tidak akan pernah menolak dan mengecewakannya. Kelelahan jiwanya mulai berangsur-angsur pulih dan bersemangat untuk menghalau kegelapan yang menghadang karena sumber terang hidup telah mendampingi jiwanya. (*)












