Deliserdang (suarsair.com) – Wagub Sumut Surya menegaskan pers merupakan mitra strategis Pemprov Sumut dalam mendukung pembangunan daerah. Pers memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi pembangunan, mengawal kebijakan pemerintah, serta menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Surya saat membuka Workshop dan Musyawarah Daerah (Musda) VI Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sumut di Aula Dispora Sumut, Jalan Pancing, Deliserdang, Selasa (3/11/2026).
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers, agar program dan kebijakan pembangunan dapat diketahui, dipahami, dan diawasi oleh masyarakat,” kata Surya.
Menurut Surya, kritik dan masukan yang disampaikan secara profesional merupakan bagian penting dalam evaluasi penyelenggaraan pemerintahan. Melalui pemberitaan yang berimbang, pemerintah dapat mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat untuk selanjutnya dijadikan bahan perbaikan kebijakan dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Ia menambahkan, hubungan antara pemerintah dan pers harus dibangun atas dasar keterbukaan, saling menghormati, serta tanggung jawab sesuai peran masing-masing. Pemerintah berkewajiban menyediakan informasi publik secara transparan, sementara pers tetap menjaga independensi dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.
Dalam kemitraan tersebut, Surya berharap IJTI Sumut turut berperan mengangkat potensi daerah, memperkenalkan sektor pariwisata, kekayaan budaya, ekonomi kreatif, serta berbagai peluang pembangunan di Sumut. Di sisi lain, pers juga diharapkan tetap memberikan ruang bagi suara masyarakat dan berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun ekosistem informasi yang sehat di Sumut.
“Pemerintah semakin terbuka, media semakin profesional, dan masyarakat semakin cerdas dalam menerima serta memanfaatkan informasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan mengatakan, perkembangan teknologi informasi telah mengubah lanskap penyebaran informasi. Saat ini, informasi tidak lagi didominasi media massa karena setiap orang dapat melakukan aktivitas jurnalistik, mulai dari mengumpulkan hingga menyebarkan informasi.
Herik menyebut keterbukaan informasi sangat diperlukan agar publik tidak keliru dalam menafsirkan suatu kasus. Menurutnya, jeda waktu antara terjadinya sebuah peristiwa dan keluarnya konfirmasi dari pihak berwenang dapat memicu munculnya fitnah.
Ia menambahkan, IJTI mengusung jurnalisme yang mengedepankan verifikasi dan memberikan dampak positif bagi publik, bukan semata-mata mengejar kecepatan pemberitaan.
Dalam peliputan di wilayah bencana, misalnya, jurnalis semestinya mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat, bukan sekadar berlomba menjadi yang pertama menyampaikan berita. (*)












